Seandainya..

Disuatu malam, Indraswari berkata kepada suaminya, Mas, besok beli oleh-oleh yuks. Buat temen-temen kantor.. Iya, jawab singkat suaminya dengan hembusan rokok. Mereka pun segera tidur, dengan harapan besok bisa berangkat lebih pagi, tidak kedahuluan sang Mentari.

Keesokan harinya, Indraswari bangun lebih pagi, segera mandi dan menyiapkan segala sesuatunya. Tinggal dirumah mertua bukan berarti nggak bisa bermalas-malasan. Hanya saja, Mertua yang terlalu baik membuatnya didera rasa sungkan bila masih belum bangun hingga kokok ayam jantan berbunyi. Disentuhnya tangan suaminya, dan berkata, Mas, aku tak pergi sendiri ya.. Beli oleh-olehnya, naek motornya Abah. Suaminya hanya menjawab singkat, nggak usah, sama aku aja.. Bahaya.. Dalam diam, Indraswari berfikir, apa susahnya sih, cuma beli oleh-oleh dan pulang. Mending aku bikin sarapan sajalah, nanti dirayu lagi, pikirnya.

Selesei membuat sarapan, dan bercanda dengan Nenek dari Suaminya, Indraswari teringat lagi rencananya. Pamit pada Nenek dengan alasan cuma sebentar. Bahkan tanpa pamit kepada suaminya, Indraswari nekad berangkat juga. Awalnya perjalanan berjalan mulus, bahkan dalam hitungan 10 menit, 6 kotak Pia Glenmore yang terkenal enak itu sudah nangkring di setang motor sebelah kiri.

Perjalanan pulang dimulai, dengan udara yang sejuk dan jalanan sepi, membuatnya sedikit bersenandung pelan. Indahnya Banyuwangi di pagi hari, batinnya pelan. Mobil didepannya berjalan pelan, membuatnya mengurangi kecepatan motornya. Hingga tiba-tiba, muncul sebuah lubang cukup besar yang tidak Indraswari sadari karena tertutup mobil di depannya. Kaget, dengan refleks ditekan rem tangan dan berusaha menghindari lubang. Terlalu mendadak membuatnya nggak bisa menghindari lubang itu dan Bruuuaaaaak,, Indraswari terlempar ke kanan, badannya menghantam aspal.

Seketika gelap pandangannya, yang dia ingat, hanya seseorang berusaha membantunya berdiri dan menggendongnya kerumah penduduk setempat. Dalam keadaan setengah sadar, Indraswari berusaha menjelaskan bahwa dia punya saudara di Jalan Kawi, Nama Mertua dan alamat tinggalnya. Kurang dari 15menit, suaminya datang dengan keadaan nggak kalah kaget. Panik namun berusaha untuk tenang, terlebih melihat kaki kanan Indraswari yang pengkor. Tak berapa lama Mertuanya datang dan sepakat membawa Indraswari untuk diobati.

Permasalahannya dimulai ketika akan menggendong Indraswari, jangankan digendong, untuk diangkat sedikit saja, dia berteriak-teriak kesakitan. Tahan nduk, sabar ya,, kata suaminya dengan mengusap dahi Indraswari yang basah oleh keringat karena menahan sakit. Perjalanan mengarah ke sebuah tempat yang menurut Orang-orang ahli dalam pengobatan patah tulang. Pak Usik namanya. Pria Tua yang masih kuat dan tangkas dalam memijat ini mencoba mengurut Indraswari untuk melihat seberapa parah luka yang dialami Indraswari. Mengobati dan mengembalikan beberapa tulang yang mengsle.
Pak Usik memutuskan agar Indraswari di rawat inap ditempatnya. Hari pertama dilaluinya dengan rintihan dan beberapa kali terjaga karena merasakan nyeri dan sakit di kaki dan beberapa lukanya. Tangisnya semakin menjadi mengingat dia hanya bisa berbaring saja. Duh Gusti, inikah balasan atas ketidaktaatanku pada kata-kata suamiku?, bisik Indraswari lirih.
Hari demi hari dilalui dengan harapan kesembuhan seperti sediakala. Meski terkadang batinnya juga merasa tersiksa dan berulang kali berkata, seandainya saja aku turuti apa kata suamiku..

Hari ini merupakan hari kesembilan yang dilaluinya di suatu tempat bernama Watu Gong kec Srono Banyuwangi. Kakinya sudah mulai bisa digerakkan, tapi masih jauh dari pulih seperti sediakala. Mencoba menulis untuk menghilangkan penat dan bosan. Apalagi tadi beberapa teman suaminya dari Bali datang menjenguk, membuatnya lupa akan sakit yang dirasa.

Sudah selesai menulisnya? Ujar suaminya sambil mengusap airmata yang menetes di pipi Indraswari, membuyarkan lamunan akan kejadian sembilan hari yang lalu. Sudah sore, waktunya membersihkan diri, aku siapin ya airnya.. Lanjut suaminya sambil mengambil beberapa peralatan mandi. Indraswari hanya bisa tersenyum dan kembali menangis, kali ini tanpa setahu suaminya..

_Ditulis ketika merasa bahwa sedih dan bersalah_

Diambil dari noteku di fb: seandainya

Iklan

Tentang indra2wari

an ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Seandainya..

  1. Ping balik: sebulan ini | Indra2wari's Blog

  2. Ping balik: Lebih banyak mendengar | Indra2wari's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s