So?

-Disuatu malam, dikamar kos-

MM: ” Kamu ngapain? ” *ngeliatin tv*
A: ” Lagi blogwalking mas, eh, aku barusan ikut giveaway lho. LAGI. ” *hidung kembang kempis*
MM: ” So? ” *tetep cuek*
A: ” Kok ‘So?’ ” *rada mangkel, dgn ekspresi merengut wajah di zoom in zoom out* *sinetron bgt sih*
MM: ” Iya ya, ngapain aku bilang ‘so?’ . Kamu kan udah biasa ikut giveaway, meski baru menang sekali ” *menusuk*
A: ” Hehehe, iya ya. Aku sering banget ikut giveaway ya. Tapi seneng juga lho ikutan giveaway gitu. Jadi termotivasi untuk menulis blog. Minimal ada tema, ada bahan, jadi jelas mau menulis apa. Coba perhatikan deh, blog ini itu isinya postingan nggak penting dan nggak jelas. ” *ngaku*
MM: ” Ya nggak apa-apa sih, ibarat orang itu kalo sedekah usahakan yang banyak tapi ga ikhlas. ”
A: ” Lho? kok? ”
MM: ” Iya, kalo kita sedekah banyak dan nggak ikhlas, tapi lama-lama kita jadi terbiasa lho. Misal nih, uang kamu di dompet tinggal 50rb. Terus kamu pengen sedekah, kamu pasti mikir 2x kan untuk sedekah. Coba kamu sekali-kali sedekah sebanyak itu, nggak usah mikir nanti makan apa. Coba aja dulu. ”
A: ” Ehm, iya. Tapi hubungannya sama ikut giveaway apa? ” *oon kumat*
MM: ” Gini lho, ikut giveaway itu. Bikin kamu jadi semangat nulis lagi. Minimal kamu kan bisa menulis berdasarkan tema yang diminta sama pemberi giveaway. Nah, lama kelamaan kamu jadi terbiasa menulis dengan baik, bukan seperti yang kamu bilang postingan yang nggak jelas dan nggak penting. Paling nggak, orang yang membaca blog ini jadi mendapat ilmu atau pelajaran baru. ”
A: ” Baiklah, nanti aku mau ikutan giveaway yang banyak. Biar tulisanku ini lebih bermanfaat. ” *crossfinger*
MM: ” Sedekah juga dong.”
A: ” Ai, Ai Captain! ”

_Ditulis ketika kami sama-sama nggak bisa tidur_

PS: Ada yang bikin giveaway lagi nggak ? Kasih tahu dong, hehehe. πŸ˜€

Iklan
Dipublikasi di celoteh, Ikut Giveaway | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Narsislah sebelum narsis itu dilarang!

Siapa sih yang nggak pernah narsis? Ngaku deh, pasti ada bakat-bakat narsis dalam diri kita yang menunggu untuk digali. Atau barangkali sudah timbul sejak lama?:D
Saya dulu adalah orang yang pemalu. *sekarang sih malu-maluin*. Bahkan waktu Sd-Smp pun, jarang sekali ada foto saya. Kecuali candid, dan hasilnya pun jauh dari baik. Tambah minderlah saya untuk difoto. Saya baru mau dan bisa bergaya bila foto didalam box(foto box). Oh ya, terima kasih kepada pencipta foto box. Saya bisa bergaya tanpa ada yang melihat dan cekrek-cekrek jadilah fotonya. Itu pun saya tahu juga waktu SMU kelas 1, waktu pergi ke malang diajak jalan-jalan ke tempat perbelanjaan. Sejak saat itu, diam-diam saya mulai bergaya didepan cermin. Mulai mencoba-coba gaya apakah yang pantas dan kelihatan natural. *Lupakan gaya memegang mulut, menjulurkan lidah bak ular maupun kesan seksi yang jatuhnya murahan* Gaya saya tetap, diam tanpa ekspresi dan sedikit senyum. Salahkan saya yang masih lugu dan belum putus urat malunya.
Tapi semua berubah waktu saya masuk kuliah di Malang. Saya bertemu dengan teman-teman yang nggak kalah noraknya yang membuat saya berani mengeluarkan ekspresi. Maklum, sesama himagifo(himpunan mahasiswa gila foto) kami sama-sama punya prinsip mumpung ada temennya, tunjukan ekspresimu!
Untuk foto sendiri, saya masih mikir lagi. Ah, rupanya saya memang cemen. Kalo rame-rame saja saya berani, kalo sendiri mengekeret. Mr Mayor yang akhirnya mengajak saya berfoto di sawah dibelakang kostnya. Sekalian teman saya lagi belajar fotografi, jadi lumayanlah difoto gratis. Hehehe. Tapi ternyata sulit ya berfoto dengan ekspresi yang diminta. Senyum tapi nggak boleh terlalu lebar. Judes tapi nggak boleh terlalu galak. Dih, saya bukan model kaliiii.. *gigit2 jari* Mr Mayor tahu sepertinya saya grogi dan demam panggung. Lalu dia mengajak saya ngobrol dan berbicara agar saya tenang. Eh, berhasil rupanya. Ketika Mr Mayor meminta saya untuk menggerakkan rambut dan tertawa seolah-olah bercanda, seorang temannya mengambil gambar dan cekrek. Jadilah foto saya yang bak iklan rambut bebas kutu. Yay! Berhasil!
Meski sebenarnya lebih mirip medusa sih, dengan rambut megar dan wajah nggak terlihat. Hehehe. Ini dia foto saya yang bak medusa. πŸ˜€

Rambut melawan gravitasi

Medusa in Me! πŸ˜€

Nggak terlalu buruk kan? Tapi entah ini termasuk artistik atau tidak, yang jelas ini narsis. πŸ™‚ Tolong abaikan lengan saya yang sebesar penghancur batu bata. Hihihihi. Sengaja saya watermark, karena itu foto saya sendirian. *tetep nggak pede*. πŸ˜€Β  Ah, sudah sore rupanya, saatnya mandi. Selamat berhari minggu!
Oh ya, postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway.

Dipublikasi di celoteh, Ikut Giveaway | Tag , | 6 Komentar

Gombal

Image

Contoh handuk Mr Mayor diambil dari http://www.peralatansalon.blogspot.com

Ini bukan mau ngomongin rayuan maut ya. Tapi malah handuk. Lho? Kok?
Iya jadi, ceritanya saya dan Mr Mayor ini mempunyai handuk kecil untuk mandi. Handuknya paling hanya seukuran 20x15cm. Kenapa nggak pake handuk yang besar? Biar cepat kering aja sih. *alesan aja sih, wong emang cuma punya itu.*
Handuk saya masih mending, ada motifnya dan berwarna pink. *penting, karena itu satu-satunya barang saya yg berwarna pink* πŸ˜€ Kalo handuk Mr Mayor, jangan ditanya. Warnanya putih dan tipis pula. Makanya sering banget saya cela dengan bilang gombal! *istilah lain untuk serbet yang sudah kumel* πŸ˜€

Oh iya, Mr Mayor pun nggak mau kalah. Selalu juga balik menghujat handuk saya yang nggak kalah hancurnya. Pengen tahu gimana kami saling ejek?

-di depan kamar mandi menjelang tidur-
A: ” Mas, kamu mau mandi?”
MM: ” Enggak kok, cuma cuci muka aja. ” *sambil ambil handuk*
A: ” Hah? Terus mau pake ‘gombal’ itu? ” *nunjuk handuk
MM: ” Daripada kamu, make ‘gombal’ di kepala. Betah banget! ” *ngelirik handuk saya yg lagi bertenger dikepala saya sehabis keramas*
A: ” …. Awas kamu ya! ”
MM: *keluar dari kamar mandi* ” Kamu tadi habis keramas? ”
A: ” Iya mas. Kenapa? ”
MM: ” Pinter kamu ya, habis keramas make kanebo buat ngeringin rambut. ” *sambil nunjuk handuk saya*
A: “….” *remes mouse*
Hih, kesel banget. Ini sih ngajak perang namanya. Besok-besok kalo dia lenggah, mau jadiin keset ah itu ‘gombal’. *Istri durhaka*

_Ditulis ketika menahan tangis karena jengkel_

Dipublikasi di celoteh | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Ganti Tema

Jadi, setelah punya blog yang sering jarang dilihat apalagi untuk menulis. Baru sekarang saya tergerak untuk mengotak atik tampilan/tema blog ini. *kemana aja neng?* Maafkan orang yang nggak berani mencoba malas ini. Pernah sih punya keinginan ubah/otak atik tampilan blog ini. Tapi ya itu, ujung-ujungnya semakin hancur dan saya emosi kemudian malas menulis. *mencari pembenaran lagi*

Pertama, tadi rencananya gambar tajuk yang paling atas itu mau saya ganti foto saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, narsis amat sih. Model bukan, cakep kagak tapi pengen eksis. Hehehe, nyali saya ciut deh. Sadar diri sudah bukan abg/remaja lagi.

Ah, sudahlah, sekian ganti tema kali ini. Saya mau dunlod dulu, mungkin internet lagi lancar jaya. Bhihihihihik.

Dipublikasi di celoteh | Tag , | Meninggalkan komentar

3:55 AM

Masih terjaga di pagi ini, berusaha untuk tidur tapi godaan untuk berselancar di internet terlalu besar bagi saya. Salahkan internet yang baru nyala kemarin sore. *derita hidup di kostan, yang musti patungan untuk bayar sapidi* Eh, kok jadi kayak cerita PEPI ya? Beberapa hari yang lalu, diakhir bulan januari, ada cerita tentang PEPI ini. Nggak akan cerita tentang dia sih, hehehe. Cuma kalo dipikir-pikir ceritanya kok ya mirip sama saya. Pasangan yang masih baru menikah tapi bedanya kami ngekost dia dan pasangannya punya rumah. Hebat euy, untuk ukuran semuda itu.

Sejak booming cerita tentang PEPI, saya jadi takut. Takut kalo kena imbasnya juga. Karena saya cenderung suka Blogwalking dan kadang komen saat menyukai postingan tertentu. Takut juga dikira SKSD, takut dikira fake. Sampai Mr Mayor sempat menegur waktu dilihatnya saya sedang melamun.

Mr Mayor(MM): ” Kamu mikir apa sih?”
Aku(A): ” Oh, lagi mikir aja sih. Kok orang bisa bikin cerita seindah itu dan ternyata palsu.”

MM: ” Masih soal kasus itu? Jadi itu sebabnya, kamu posting foto acara di banyuwangi kemarin? ” *sambil senyum*

A: ” Iya, aku nggak mau ah, nanti dibilang fake.” *cetek banget*

A: ” Di Fb aja aku sering dibilang Mas, bro, gan mlh dibilang klonengan lah. Padahal jelas-jelas aku cewek.” *malah curcol*

MM: *ambil gitar terus mainin gitar* ” Biarlah nanti orang yang menilai, kamu fake atau real. Jadi diri sendiri saja. ”

MM: ” Lagian, orang kalo berbohong atau mengarang cerita itu capek. Nanti juga bisa ketebak. ”

Kata-kata Mr Mayor bikin saya berfikir lagi. Bahwa yang paling penting adalah menjadi diri sendiri. Jadi inget seorang yang pernah bilang saya akun klonengan di FB, kemudian akhirnya meminta maaf dan menjadi teman yang baik. Atau seseorang yang bilang saya judes kurang ramah, tapi justru sekarang menganggap saya sodara. πŸ˜€

_Ditulis ketika menjelang adzan subuh_

Dipublikasi di celoteh | Tag , | Meninggalkan komentar

Nasihat dari Abah

Okay, postingan ini terinspirasi waktu baca postingan di blog ibu labil. Langsung deh, putar otak sambil melamun. Kalo dibilang nasihat baik sih banyak banget. Terutama waktu abis kecelakaan setahun yang lalu. Waktu saya masih belum bisa legawa dan selalu bertanya, Why me Lord? Why me?! *ampuni saya*. Tapi diantara sekian banyak nasihat itu, ada satu orang yang bisa saya terima nasihatnya. Siapa? Ortu? bukan. Tapi justru Bapak Mertua saya. Orang Tua saya tidak kalah kalut dan sedihnya, jadi nggak sempat untuk menasihati saya. Mereka berjuang untuk membesarkan hati mereka sendiri.

Bapak Mertua atau Abah, adalah tipe Bapak yang keras dan kurang bisa menjalin komunikasi dengan anak-anaknya. Ini menurut Mr Mayor dan adik-adiknya ya. πŸ™‚ Tapi entah mengapa, Abah sering banget cerita dan curhat dengan saya. Mungkin Beliau menganggap saya sebagai anak perempuan yang nggak pernah dimilikinya. Beliau sering sekali menanyakan kabar atau pun ketika saya telepon Mr Mayor(wkt masih pacaran) berusaha untuk menyapa saya meski cuma sebentar.
Masih ingat dibenak saya, bagaimana marah dan kecewanya beliau ketika adik ipar mengalami masalah. Apakah Beliau mengungkapnya kepada adik ipar? Tidak, Beliau menahannya, tapi langsung keluar ketika melihat saya. Saya hanya bisa pasrah ketika semua keluh kesah dan amarah keluar ditelinga saya. Saya maklum, karena beliau tidak akan sampai hati mengeluarkan amarahnya kepada anaknya.
Saya ingat dengan jelas, ketika saya baru datang di malang. Abah langsung menyuruh saya duduk dan bercerita tentang segala hal. Betapa antusiasnya Beliau dengan rencana saya untuk bersekolah lagi.

Semua hal itu membuat saya dekat dengan beliau, bahkan seperti ayah saya sendiri. Ketika saya menulis ini pun, diam-diam saya menangis. Saya teringat kejadian setahun silam. Ketika saya di depan pintu OK(Kamar Operasi), saya sempat mengirim pesan kepada Beliau. Beliau membalas dan langsung membuat saya menangis.

Ya aku do’a kan semoga engkau cepet sembuh, sabar ya.. Semua manusia diuji oleh ALLAH SWT dengan kesenangan dan kesedihan. Kalau dgn sabar ujian ini akan dilalui dgn baik. Salam buat Bapak dan Ibu. Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ya, nasihatnya hanya sesimpel itu. Tapi cukup membuat saya optimis menghadapi operasi. Abah juga bilang, apa yang saya alami adalah proses penghapusan dosa dan ujian kenaikan tingkat. Nasihat Abah selalu menjadi pengingat saya ketika saya mulai merasa jenuh dan putus asa dengan keadaan ini. Terima kasih abah atas nasihat-nasihatnya.

Malam ini Beliau datang ke Malang, biasanya sih membawa oleh-oleh tape kesukaan saya. πŸ™‚ Nggak sabar menunggu kedatangan Beliau. πŸ˜€

Kursi raksasa

Kursi raksasa

Ingin tahu seperti apa Beliau? Ini dia fotonya waktu bercerita kepada saya tentang keindahan alam di banyuwangi. πŸ™‚

Oya, postingan ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafiramaya, seorang ibu labil yang tidak suka warna Hijau dan Hitam.

Dipublikasi di Banyuwangi | Tag , , | 2 Komentar

5 Hari di Banyuwangi

Kemarin sempat mudik ke Banyuwangi dalam rangka Nikahan Mbak Rinda(sepupu Mr mayor). Kita berangkat hari jum’at setelah sholat jum’at. Berangkat dari malang diiring hujan deres. Mana AC mobil Bumblebie(Corolla’75) mati lagi. Hahaha,, langsung berembun di dalem mobil.*kanebo mana kanebo*. Sepanjang perjalanan, kita semua berusaha untuk nggak mencela/ngomongin bumblebie biar ga ngambek macet. Hihihihi, abis bumblebie ini kadang suka rewel kalo lagi dicela.

Okay, perjalanan relatif mulus dan nggak macet. Sempat berhenti sebentar di SPBU Kedungjajang(Lumajang) buat ngelurusin kaki yang pegel. Hampir 4jam nekuk terus. Lumayan tersiksa untuk patah tulang kayak saya. Ah, tapi dibawa senang aja deh. *sambil elus-elus kaki*.

Perut mulai lapar, tapi pantang untuk makan di Lumajang, pengennya sih di Jember aja. Biar bisa ngerasain Bakso Rudal di jalan Jawa 6 Jember. Alasan aja sih, emang ga nemu makanan enak nan murah. Hihihi.. πŸ˜€

Image

ini waktu berhenti di SPBU, dengan wajah kucel dan laper

Perjalanan dilanjutkan menuju Jember, dan langsung ke Jalan Jawa 6. Sampai disana, Bakso rudalnya habis! *krik,krik*. Ah, keburu laper, aku langsung pesen mie ayam bakso. Dalam sekejap pun tandas tanpa sisa. Kenyang? hohoho, alhamdulillah, kenyang dikit. πŸ˜€
Langsung meluncur menuju Banyuwangi, dan nyampe di rumah jam 10 malam. Alhamdulillah. Begitu masuk rumah, Abah dan Umik(mertua) sudah menyiapkan menu makan malam berupa mie! Duh Gusti, mie lagi mie lagi.. Tapi tetep habis dong, wong laper ini. Hihihihi. Setelah bersihin kamar dan membersihkan diri, langsung melompat ke kasur. Besok musti rewang(bantu-bantu) di tempat mbak Rinda. Besoknya, bangun pagi dan cepat-cepat berangkat ke rumah mbak Rinda. Eh, pamit dulu ding sama suami. Nyampe ditempat mbak Rinda, udah rame banget. Langsung cari tempat di pojok buat bantuin masukin kue di kotak. Hihihihi, ini tugas paling enak. Makan kue dengan alasan tester. πŸ˜€ Eh, sangking sibuknya tahu-tahu udah jam 1 siang aja nih. Buru-buru pulang buat sholat dan istirahat. Kaki rasanya pegel banget, mana hujan lagi. Begh, tambah pules tidurnya. Hihihihi. Selepas maghrib, diadakan pengajian di rumah Mbak Rinda.
Hari minggu pagi, sudah ribut banget. Ternyata acara akad nikahnya jam 9 pagi. Oh ya, yang unik di akad nikah ini, pengucapan akadnya menggunakan bahasa isyarat. Berangkat buru-buru eh nyampe sana akad udah selesai. 😦 Nggak kebagian kursi lagi, terpaksa berdiri diluar pagar. Untungnya, mbak Rinda dan Mas Dino keluar untuk menyalami tamu.

Image
krisna, uwe, mbah ti dan putri

Β Resepsinya gimana? Biasalah, pake adat jawa. Ya panggih, kacar kucur dll. Saya? Saya cukup liat dari jauh dan bermain dengan pingkan, biar ketularan maksudnya. πŸ˜€

Pink in purple

Pink in purple

Saya baru semangat waktu para tamu dipersilahkan menikmati hidangan. Bhihihihik, muka lapar saya langsung sumringah. Hehehe..

Lihat mangkok ditangan saya :D

Lihat mangkok ditangan saya πŸ˜€

Ga jelas ya wajah saya? Mau yang lebih jelas? Ini dia.. Perhatikan muka juragan bakso saya yang puas banget cemal cemil martabak dan sate. πŸ˜€

Mbak Indah, saya, krisna dan cello

Mbak Indah, saya, krisna dan cello

Eh iya, ga afdol ya kalo nggak upload foto pengantinnya. Ini dia, pengantinnya.

Selamat Menempuh Hidup Baru Mbak Rinda dan Mas Dino

Pengantinnya :D

Pengantinnya πŸ˜€

Dipublikasi di Banyuwangi | Tag , , , , | Meninggalkan komentar